03 Januari 2008

Sastra


Cerpen


Gadis Malam


Seperti malam – malam yang telah lalu. Dibalik remang-remang cahaya bulan, dia terus menggelayutkan kaki indahnya menyusuri jalan setapak yang penuh dengan kerikil kecil dan sedikit berair. Hujan sepanjang hari yang terjadi pagi tadi membuat tanah yang seminggu lalu kering kerontang menjadi tempat genangan air yang keruh bercampur lumpur. Rumput dan ilalang liar yang semula suram kini riang berseri-seri karena hujan tadi pagi mengguyur dengan derasnya mengenai daunnya yang hampir tak mampu menatap matahari. Jangkrik yang bersembunyi di semak-semak. Jangkrik mulai melantunkan lagu khasnya seakan menyambut malam yang semakin kelam. Anak-anak laron yang ingin bebas beterbangan mengelilingi lampu-lampu penerangan di jalan. Seakan ingin menikmati udara malam yang makin tidak bersahabat. Aroma bunga kamboja yang tengah mengembang seakan tersaing dengan aroma wangi dari parfum sedap malam yang dipakainya. Angin malam yang meniupkan hawa dingin menggoyangkan rambut panjangnya yang lurus nan indah terurai hingga lekuk pinggang. Bibirnya yang mungil diberi gincu merah menyala membuat seakan bibirnya tak mau kalah dengan warna bunga kamboja. Lesung pipi yang indah terlihat jelas bersamaan dengan senyum manisnya yang mengembang. Lampu penerangan jalan yang sedikit redup membuat wajah ayu nan manis semakin terlihat memesona. Kelopak matanya diberi penghias warna coklat kehitaman dan alis matanya yang lentik menjulang ke atas membuat semakin menawan ketika ia berkedip.
Kini sampailah ia di sebuah rumah tua yang dindingnya terbuat dari anyaman bambu yang mulai berlumut termakan usia. Rumah itu dipagari tanaman bunga kamboja Bali, tanaman yang sering terlihat tumbuh di pemakaman, yang menambah suasana menjadi sunyi nan mistis. Halaman rumah tua itu berhiaskan daun-daun mahoni kering yang berjatuhan karena ditiup angin. Rumah yang ketika malam menjelang hanya diterangi cahaya lampu 5 watt adalah rumah Minul si penjual gado-gado. Setiap hari wanita tua renta menjajakan jualannya keliling kampung. Meskipun tak sekuat ketika ia masih muda tapi semangatnya untuk mengisi hari tua tak pernah luntur. Rambutnya yang semula hitam pekat semakin luntur menjadi putih kusam karena termakan oleh usia. Minul hidup dengan suami dan Rani cucu semata wayangnya yang sejak lahir buta. Kedua orang tua Rani merantau ke Sumatera ketika Rani berusia 3 tahun dan hingga sekarang tidak pernah pulang. Entah masih peduli atau tidak terhadap anaknya semua tidak tahu. Rojak suami Minul bekerja sebagai buruh tani di sawah milik pak Carik. Dengan pendapatan yang pas-pasan sepasang suami istri itu menghidupi keluarganya. Gadis mengetuk pintu yang mulai dikikis rayap dan dengan suara serak-serak basah ia memanggil yang punya rumah.
“Mbah Minul! Ini saya “
“Ayo masuk, nak Rani sedang menunggumu di dalam” ujar Minul saat membukakan pintu untuk sang gadis. Saat ini Rani sudah duduk di kursi ruang tamu yang sedikit usang sembari memainkan jari lentiknya. Ruang tamu yang hanya berukuran 3 x 4 meter itu terlihat semakin sempit karena semua orang rumah berkumpul. Di sudut ruangan ada wakul, tempat untuk menjajakan gado-gado buatannya. Mendengar kedatangannya Rani tersenyum bahagia. Wajahnya yang mungil berseri-seri dan lugu semakin manis kala senyum mengembang dari bibir tipisnya. Lesung pipit di kedua pipinya semakin mempercantik wajahnya. Dia sangat bahagia ketika sang gadis yang ia nantikan datang tepat di hari istimewanya. Hari itu adalah ulang tahun Rani yang ke tujuh. Kedatangan gadis itu adalah untuk memberikan selamat pada Rani dan sekaligus merayakannya. Dia membawa gaun pink dengan hiasan manik-manik berbentuk bunga dan pita kuning yang melingkar pada bagian pinggang. Gaun itu adalah hadiah spesial untuk Rani.
“Rani, ini hadiah untukmu”. “Selamat ulang tahun ya sayang”. Semoga segala asa dan cita-cita kamu dapat segera terwujud, usia yang semakin bertambah semoga menambah pula kedewasaan kamu”. Kata gadis itu sambil mengecup kening Rani.
“Makasih mbak, ini adalah hadiah yang sudah lama aku inginkan mbak”. Warnanya apa mbak ?” Ujar Rani sembari meraba gaun itu dengan tangannya.
“Pink, Rani suka?” Jawab gadis itu dengan satu pertanyaan.
“Suka sekali mbak. Mbak..Rani pengin sekolah. Rani pengin belajar seperti teman-teman Rani yang lainnya. Rani pengin melihat pelangi. Rani pengin lihat bulan” Ucapnya dengan nada terbata-bata karena menahan isak tangis.
“Mbak pasti akan mewujudkan keinginan Rani. Rani jangan khawatir ya” yang penting Rani harus percaya bahwa Tuhan memberikan cobaan kepada Rani itu tanpa sebuah alasan pasti ada suatu hikmah dibalik itu semua, dan juga Rani harus terus berikhtiar dan berdoa, Rani percayakan?”
“Percaya mbak, mbak harus janji ya” Ucapnya pelan.
“Mbak janji” Balas gadis itu sambil mengikatnya jari kelingkingnya ke jari kelingking Rani.

Tetesan air mata haru mengucur dari kedua mata gadis itu, pipi nan halus terbasahi oleh tangis kebahagiaan, ia tak kuasa menahan emosi karena telah memberikan sesuatu yang berharga bagi Rani. Hal ini merupakan momen yang tidak mungkin ia lupakan.
Persaudaraan antara gadis itu dengan Rani sangatlah erat. Pasalnya gadis itu telah menganggap Rani sebagai adiknya sendiri. Soal nasib Rani, sungguh tidak berpihak kepadanya. Pasalnya hidupnya tidak selalu bahagia. Sejak lahir ia harus menanggung kecacatan fisik. Matanya tidak bisa melihat dengan sempurna. Hingga ia tidak bisa melihat indahnya dunia. Mulai kecil ia harus berpisah dari ayah dan bundanya yang merantau ke Sumatera. Mulai usia yang seharusnya mendapat kasih sayang dan belaian lembut dari kedua orang tua justru di rawat orang yang jauh dari hatinya. Oh sungguh malang nasibmu nak..! itulah sebabnya kenapa gadis itu sangat menyanyangi si Rani.
Malam semakin larut. Sunyi dan kelam menghiasai pandangan gadis itu. Tapi sinar bulan di malam itu belum surut menerangi jalan yang dilaluinya. Udara dingin tak menyurutkan langkah kedua kaki indahnya. Sepulang dari rumah Minul, gadis itu kembali meneruskan perjalanannya. Dengan hati berdebar-debar berharap perjalanannya tidak ada rintangan. Suara katak yang menjerit menyambut datangnya hujan rintik membuat malam itu semakin berirama.
Terdengar sayup-sayup lantunan lagu dari kedua telinganya. Lagunya bernada mellow..”Tidurlah selamat malam..lupakan sajalah aku…………” alunan lagu Drive, grup band yang lagi naik daun, terdengar dari warung kopi milik mbah Jo. Setiap malam warung itu dipenuhi para sopir dan kernet truk besar yang tengah beristirahat. Selain menyediakan kopi, di warung mbah Jo juga menyediakan macam-macam makanan salah satunya nasi pecel kepleh yang sangat digemari oleh rata-rata pengunjung warung itu. Semakin larut malam, maka semakin ramai pulalah warung itu. Gadis itu masuk ke warung lesehan milik Bu Inem yang menyediakan menu spesial yaitu ayam panggang. Warung itu terletak di pojok perempatan jalan tepat sebelahnya kanan warung miliki mbah Jo. Ia tersenyum centil nan genit kepada tamu yang tengah asyik menyantap menu ayam panggang. Kebanyakan mereka adalah orang-orang elit atau golongan ningrat yang merasa bosan dengan masakan istrinya. Bu Inem sang juragan warung menyuruh gadis itu untuk melayani tamu.
Gadis itu membawa nampan yang berisi menu spesial ayam panggang lengkap dengan sambal terasi lengkap dengan lalapnya dan satu teko kopi hangat serta dua cangkir. Ia mengantarkannya kepada pria paruh baya yang duduk di pojok kiri belakang sambil menghisap rokok dalam-dalam. Gadis itu spontan tersenyum genit kearah tamu itu dan menyilakan untuk menikmati menu yang sudah siap dihidangkan. Gadis itu duduk di sebelah pria itu untuk menuangkan kopi dari dalam teko ke cangkir. Pria itu spontan terpesona dengan perlakuan hangat yang diperagakan oleh gadis itu. Ia kagum dengan segala kecantikan yang dimiliki oleh si gadis. Puas bermain pandang, pria itu memberanikan diri untuk memegang tangan halusnya yang disambut dengan senyum nakal dan kerlingan mata yang menyesatkan. Melihat gelagat gadis yang mengundang umpan, pria itu makin bersemangat untuk mendapatkan sesuatu dari gadis itu. Puas bermain tangan, pria itu mulai kesetanan, tangan-tangan iblisnya tak bisa ditahan dan akhirnya sampailah di area paha gadis itu yang disambut dengan rintihan menyayat pikiran dan hati sang gadis.
Tak sedikit pengunjung warung yang terpukau, terpesona dengan kecantikan sang gadis, banyak yang memuja, banyak yang terkulai lemas seketika melihat kemolekan tubuh sang gadis. Sungguh sempurna di mata mereka. Tak ayal banyak yang berani menggoda bahkan bertindak di luar batas. Tapi itulah kenyataannya, si gadis tak dapat menyembunyikan rasa malu apalagi rasa takut yang membungkus nuraninya. Ia hanya bisa meratapi nasib hidupnya padahal nuraninya sedang berkecamuk hebat, perang batin sering ia rasakan. Klise memang, sering ia harus terpaksa tersenyum, melayani tamu-tamu agar betah di warungnya, padahal hati sedang menangis dan meratap.
Ia jalani semua itu dengan pasrah. Karena hanya itu yang ia bisa, agar bisa menjalani hidup ini. Semua ia lakukan dengan wajah yang memesona walau dengan keterpaksaan hati yang luar biasa.
Memang, kalau lagi beruntung banyak orang yang suka pada gadis itu, banyak yang merasa simpati karena profesinya, karena kelembutannya, tapi tak sedikit pula yang bertindak nakal padanya. Hampir suatu ketika ada yang mau ngajak untuk “begituan” tapi dengan cepat gadis itu menolak tanpa melukai perasaan tamu yang hadir di warungnya. Emang itu kelebihan sang gadis, banyak laki-laki yang luluh hatinya ketika berhadapan dengan gadis. Tapi dengan banyak kelebihan yang disandangnya, ia tetap tak lupa daratan. Ia tetap merasa hanya seonggok raga yang sedang mencari jati diri dan penghidupan di dunia yang fana.
Ketika sang gadis tengah asyik bercengkerama dengan para tamu di warungnya. Terdengar suara pria dengan cukup lantang memanggil nama gadis itu. Dengan suara yang setengah berteriak ia terus memanggil-manggil nama gadis itu dan membuat semua pengunjung melihat ke wajahnya yang putih bersih dengan hidung mancung, badan atletis, berperawakan tinggi dan besar.
Cinta ! ! keluar kau ! ini aku !” teriak Levi dengan nada tinggi dan kasar. Mendengar apa yang diucapkan Levi, ia segera keluar dan menyambutnya dengan jawaban sinis.
“Mau apa kau ke sini ?”
“Mau apa ?” Tidakkah kau tahu, aku butuh kamu, tapi ini balasanmu atas semua yang kulakukan padamu? Kau melakukannya dengan orang yang tak kau kenal, kenapa tidak dengan aku, kekasihmu ?”
“Jadi, kau mau tahu, kenapa aku melakukan ini semua?” Karena aku tidak mencintaimu! Sudahlah pulang sana! Tamuku banyak!” Jawab Cinta dengan sedikit terbakar emosi.
“Sungguh kau wanita pendusta Cinta. Tidakkah kau tahu betapa aku mencintaimu, aku mencintaimu melebihi semua yang ada dalam diriku. Cintaku hanya untukmu. Cinta! Katakan kalau kau mencintaiku ! katakan Cinta !” Teriak Levi dengan sedikit memaksa.
“Kamu ini tidak punya telinga atau tuli sih? Sudah jelaskan kalau aku tidak punya cinta untukmu cintaku hanya untuk profesi ini? Pulanglah, dan ingat kau bisa mendapatkan gadis yang lebih baik dariku, bukan gadis penuh cela dan aib sepertiku.”
“Aku tidak mau pulang tanpa dirimu ! Sudahlah ayo kita pulang!” Levi menarik paksa tangan Cinta.
Levi, tahukah kamu aku tidak mau pulang bersama orang yang tak aku cintai. Aku hanya mau disamping orang yang aku cintai. Sedangkan kamu.. apa? Tak ada cinta untukmu di hati ini. Sudahlah! Pulanglah ! Disini aku sudah banyak teman.
Cinta.. jangan sebut aku lelaki kalau aku pulang tanpa dirimu. Tahukah kamu aku lebih baik mati daripada harus sendiri meratapi hidup tanpa dirimu. Cinta ! buka hatimu untukku !”
Cinta tetap bersikukuh dengan pendiriannya, tapi kayaknya Levi juga tetap memaksa, hampir tamparan akan mendarat di pipi kiri Cinta tapi Levi sadar, gadis yang akan ia tampar adalah orang sangat berarti di hatinya, Levi sadar akan kelakuannya yang hampir pasti dapat membuat Cinta luka hati dan akhirnya tangan halus Cinta dipegang Levi sambil ditariknya, karena Cinta kalah kuat akhirnya Cinta tak berdaya digelandang oleh Levi untuk meninggalkan warung itu sambil meronta tak berdaya dengan airmata tak terbendung mengalir di pipi Cinta.
Ya, nama gadis itu adalah Cinta. Gadis itu ketika senja beranjak malam hingga malam menjelang fajar menjadi pelayan di warung milik Bu Inem. Setiap hari ia menjalani profesi ini. Pahit getir kehidupan malam sering ia rasakan. Gadis itu tatkala langit mulai petang berdiri di perempatan jalan dengan senyum genit menyapa tamu-tamu yang berkunjung ke warung Bu Inem. Sudah lama ia menjalin hubungan dengan Levi, tapi tak selalu bahagia karena egoisme yang dimiliki oleh Levi terlalu berlebihan. Sering ia cekcok, sering terjadi salah paham antara Cinta dengan Levi. Jarang terhiasi senyum bahagia dari kedua insan itu, tapi sering ia bermuram durja karena keegoisan salah satu pihak. Yah..Cinta hanyalah seorang manusia biasa yang menginginkan kebahagiaan disela-sela perjalanan hidupnya. Itu hanya pelarian Cinta untuk menemukan sebuah kenikmatan hidup, tapi tak ia pikirkan bahwa kebahagiaan yang ia rasakan hanya kebahagiaan semu. Gadis itu tak seharusnya merasakan kelam dan suramnya kehidupan malam hanya karena dalih kebahagiaan. Gadis itu seharusnya ketika malam datang berada di belaian lembut dari seorang terkasih yang benar-benar tulus mencintainya.
Akhirnya, Levi menyadari akan kekeliruannya, dan Cinta dengan besar hati memaafkan Levi. Cinta juga sadar karena masih ada cinta di hati ini untuk Levi. Dengan dihiasi janur kuning melengkung tepat di halaman masuk rumahnya, ia merayakan hari yang indah dalam hidupnya. Pernikahan telah menyatukan mereka selamanya.

Tidak ada komentar: